WE ARE READY TO FIRE...!!!
Serbuu...suara
mengerang dari lawan dan kawan memecahkan keheningan malam itu. Malam telah
larut, namun semangat kami pantang surut. Saling menyerbu, menjatuhkan lawan,
bergulat untuk merebut kemenangan di medan perang. Tak ada yang mau mengalah,
hingga titik penghabisan. Peperangan pertama di menangkan oleh tim kami, Ridho,
Jafar, Bahrudin, mas Puji, mas Ahmad, mas Khaer, Rizki, Tantri, Hasan. Dari benteng
pertama telah berhasil kami terobos
dengan penuh perjuangan. Soleh yang badannya seperti Ade Rai yang kami takutkan
ternyata tumbang oleh tubrukan mas Puji yang segedhe King-Kong. Parijo, dari tim lawan yang berbadan sekuat Hulk juga tumbang oleh Sang Kapten Ridho
dibantu Mayor Maman. Kekuatan kami merangsek ke benteng berikutnya, benteng
kedua. Satu persatu dapat dengan mudah kami tumbangkan Ubed dengan Jurus Dewi
Mabuknya kami tumbangkan dengan mudah. Delapan pasukan garis depan kami masih utuh menyerang tiga pasukan lawan
di garis pertahanan dan dua di garis akhir. Sempat satu pasukan siluman musuh
yaitu mas Raju mengendap-endap memasuki
wilayah dua kami namun dengan mudah berhasil kami amankan. Pasukan bertahan
musuh tinggal dua dengan bom, senjata
terakhir mereka. Beberapa mengalihkan perhatian musuh....dan...bhet..bendera
lawan dapat diambil tanpa disadari lawan oleh Sang kapten. Hmmm.. Kemenangan
mutlak di peperangan pertama..saya butuh hasil..
bagaimana dengan perubahan...
juga hasil yang telah kita capai bersama?
bukankah itu yang menjadi tujuan kita..
tak ada guna menanyakan kerja..
bagaimana dengan visi..
bagaimana dengan misi...
usaha yang maksimal akan membuahkan hasil..
hasil yang maksimal akan membuahkan manfaat..
manfaat yang banyak akan membuahkan..
senyuman kebahagiaan..
(THE MASTER menimba dari PATTIRO, 24012012)
Kopi untuk kawan
Kopi untuk kawan
Kantuk dingin menjalari
Dihadapan secangkir kopi
Sebatang tembakau tersungging di bibir
Tak ingin rasa ini bergegas lari
Di warkop trotoar
Beratap terpal
Beralas seadanya tikar
Kopi dan tembakau adalah serasi
Bercanda diantara kawan sehati
Intelek ini bergunjing memang
Ssembari menatap langit tak berbintang
Tiada daya mengusir jajaran awan
Tampak pekat menghalang sinar rembulan
Awan gelap milik para petinggi
Enggan pergi tanpa ORI se-peti
Mereka menghantui penduduk pribumi
Rakyat yang menghargai jerih pionir negri
Gelap, petir, angin kuat
Gelaplah keadaan disana
Penghalang kejora terang
Tak pernah mata lima watt ini memandang
Gusar hati ini memang
Bukan hati kami semata
Ribuan hati pemilik asa
Yang menjaga mata tetep terbuka
Dimana pergunjingan tak berujung
Dimana usaha tak hanya tarung
Tenaga, otak, suara jadi satu
sumbang solusi untuk maju
mungkin
langit harap kopi juga tembakau
menggerus awan-awan penutup
mencabut duri busuk lama menusuk
tak khayal terang rembulan perlahan turun
kejora harapan muncul brhambur
silahkan kawan
secangkir kopi sebatang tembakau
untukmu.
Nganggur VS Sibuk
